Berbakti Untuk Negeri

...

...

Kenangan Bersama Kawan

Kenangan Bersama Kawan
DI Gunung Salak

globe

Showing posts with label About of Bima. Show all posts
Showing posts with label About of Bima. Show all posts

OPEN TERM “SILIWANGI” and “PRABU SILIWANGI”

BY: M. Hajarudin

Word “Siliwangi” come from word silih that mean successor or router and fragrant that mean fragrant or fragrant. Thereby, meaning from name Prabu Siliwangi has explanation that him successor or router prabu fragrant (Wangisutah) that fall at town square Bubat Majapahit in Bubat War year 1357 m in defend honour and authority Pajajaran kingdom.
At that time, group from Pajajaran Kingdom (Galuh) have an eye to to marry off his daughter is daughter Diyah Pitaloka with king Hayam Wuruk on proposal the king. When group of woman bride candidate stops and make pasangrahan at town square Bubat while wait king fetching Hayam Wuruk (man bride candidate). Apparently noble intention Prabu Wangi (Wangisutah) and king Hayam Wuruk not wish for by Patih Gajah Mada, he holds" secret movement" is not known by the king self. Gajah Mada with the troop very big surround and invade bride group so that causes to fall it the Mokteng Bubat (Prabu Wangi), daughter Diyah Pitaloka and the guards.
As to term Prabu Siliwangi First am Prabu Wastu Kancana that move kingdom centre Pajajaran from Kawali (Ciamis) to Pakuan (Bogor). In government time Prabu Wangi, Prabu Siliwangi First and Prabu Siliwangi Second Pajajaran Kingdom under one power or in word other Pasundan east and Pasundan west ally be one power.
After Rahiyang Wastu Kancana died, Kingdom of Pasundan divided two; that is east Pajajaran Kingdom at Kawali Ciamis under Ningrat Kancana and Pakuan Kingdom (West Pajajaran) at Bogor be power Prabu Susuktunggal. In time Prabu Siliwangi Second that's pasundan ally again be Pakuan Pajajaran with his capital town at Bogor.

SEJARAH KERAJAAN TALAGA SEBELUM ISLAM

Oleh : M. Hajarudin

Pengantar
Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalaamu ‘alaikum wr.wb.
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad.
Berkat rahmat dan taufik Allah SWT semata, tulisan ini dapat saya persembahkan kepada setiap orang yang peduli terhadap sejarah dan budaya Tanah Pasundan. Ucapan terimakasih saya sampaikan kepada Kang Abung Syihabuddin, Sesepuh Talaga dan keluarga besar Talaga yang telah memberikan rujukan pokok bagi penulisan sejarah ini.
Terus terang saja, Pintu Gerbang Talaga baru dapat penulis masuki setelah melalui berbagai perjalanan spiritual, yakni dalam perjalanan pulang sehabis penulis berziarah ke Situs Karangkamulyan (Ciungwanara) Banjar Kabupaten Ciamis sekitar tahun 2002. Selanjutnya, sehari setelah ziarah-pendakian Gunung Simpay (Eyang Mandalasakti) di Sumedang tahun 2003 penulis mendapat taufik untuk dapat menemukan kembali letak makam Raden Ragamantri, putera Maha Raja Prabu Siliwang yang menjadi Pucuk Umum Talaga sekaligus suami dari Ratu Parung.
Semoga tulisan yang cukup ringkas ini dapat bermanfaat bagi para pelajar, mahasiswa dan pembaca sekalian dimanapun berada. Juga tidak lupa, semoga tulisan ini akan ikut memperkaya khazanah budaya dan sejarah bangsa Indonesia tercinta. Amin.

SEJARAH KERJAAN TALAGA
SEBELUM ISLAM

Berdirinya Kerajaan Talaga Hindu
Nun jauh di lereng Gunung Ciremay sebelah selatan, di sekitar Desa Sangiang Kecamatan Talaga Kabupaten Majalengka, berdiri satu Negara yang disebut dengan Kerajaan Kerajaan Talaga. Yang pertama-tama mendirikan dan mengolah Negara tersebut yaitu Batara Gunung Picung, putera keenam Ratu Galuh Ajar Sukaresi atau disebut juga Maharaja Sakti Adimulya (1252 – 1287 M).
Adapun Ratu Galuh Ajar Sukaresi sendiri mempunyai delapan putera/puteri dari isteri beliau yang berlain-lainan. Nama-nama mereka itu adalah:
1. Prabu Hariangbanga: Menurunkan para raja di daerah Jawa Timur, seperti Prabu Brawijaya II sampai Prabu Brawijaya V;
2. Maharajasakti: Menurunkan para raja di tanah Pajawan;
3. Prabu Ciungwanara (1287 – 1303 M): Menurunkan para raja di Pakuan dan Pajajaran;
4. Ratu Ragedangan;
5. Prabu Haurkuning, Maharaja Ciptapermana I (1580 – 1595 M);
6. Batara Gunung Picung (1595 – 1618); Menurunkan Raja-Raja Talaga;
7. Ratu Permana Dewa; dan
8. Bleg Tamblek Raja Kuningan.

Adapun Batara Gunung Picung (Ciptaperman II) beliaulah yang menjadi Raja pertama di Talaga (Talagamanggung), dari beliau itu pula menurunkan:
1. Sunan Cungkilak;
2. Sunan Benda;
3. Sunan Gombang;
4. Ratu Ponggang Sang Romahiyang; dan
5. Prabu Darmasuci I.

Prabu Darmasuci I
Prabu Darmasuci I mempunyai dua orang putera yang akan melanjutkan silsilah Kerajaan Talaga pada masa berikutnya, dua orang putera beliau itu adalah:
1. Bagawan Garasiang; dan
2. Prabu Darmasuci I (Prabu Talagamanggung).

Bagawan Garasiang
Putera sulung Prabu Darmasuci I adalah Begawan Garasiang, beliau adalah orang yang gemar bertapa dan merenung sehingga beliau menjadi seorang Begawan Hindu Kahiyangan. Ia mendirikan padepokan di satu gunung kecil yang disebut Pasir Garasiang, terletak di daerah perbatasan antara Kecamatan Argapura dan Talaga sekarang. Beliau mempunyai puteri yang bernama Ratu Putri Mayangkaruna, yang kemudian diperistri oleh Prabu Mundingsari Ageung, putera Prabu Siliwangi II (Raden Pamanah Rasa) dari Pajajaran.
Kalau kita perhatikan, dengan adanya pernikahan Putri Talaga dan Putra Pajajaran, ini adalah hukum yang tidak tertulis akan tetapi menjadi ciri khas langkah strategis dan politis raja-raja Pasundan untuk mempertahankan keutuhan Negara dan ikatan kekeluargaan melaui jalan pernikahan di antara para penguasa wilayah Pasundan. Dengan memperhatikan asfek-asfek penting inilah sikap silih asih, silih asah, silih asuh akan terekat kuat.

Prabu Darmasuci II (Prabu Talagamanggung)
Prabu Darmasuci II (Prabu Talagamanggung) bersemayam di Talaga, keraton beliau terletak di Sangiang, dengan panorama situ keraton yang indah yang disebut Situ Sangiang. Menurut catur para sepuh Talagamanggung adalah seorang Narpati yang sakti mandraguna dan weduk (tidak tembus senjata). Beliau mempunyai sebuah senjata pusaka yang diberi nama “cis”, bentuknya seperti tombak kecil atau sekin. Konon, bahwa beliau ketika lahir tidak memiliki pusar seperti halnya orang pada umumnya. Menurut ceritera pula Prabu Talagamanggung hanya mempan ditembus senjata oleh senjata CIS-nya itu.
Pada masa pemerintahan Prabu Talagamanggung Kerajaan Talaga mengalami kemajuan yang gilang-gemilang dan kondisi sosial masyarakatnya semakian tentram dan mapan. Dengan demikian banyak orang yang berasal dari negara dan daerah lain ikut menetap di Talaga.
Prabu Talagamanggung mempunyai seorang menantu yang berasal dari Bangsawan Palembang yang bernama Palembangunung (suami Putri Dewi Simbarkancana), pada suatu kesempatan Palembanggunung mengadakan gerakan bawah tanah untuk merebut kekuasaan dari mertuanya. Akhirnya Palembanggunung dengan komplotannya, melalui oleh seorang pengawal pribadi Sang Prabu, Centrangbarang (yang ditugaskan mengurus senjata) ia berhasil mencuri senjata CIS tersebut dan memberikannya kepada Palembanggunung yang kemudian digunakan untuk menusuk tubuh Sang Prabu. Dalam peristiwa itu Prabu Talagamanggung terluka dan kemudian tubuhnya menjadi lemas dan akhirnya meninggal. Jenazah beliau diurus sesuai ajaran Agama Hindu Kahiyangan, abu jenazahnya di larung di Situ Sangiang .
Pada masa hidupnya, Prabu Talagamanggung mempunyai satu orang putera dan satu orang puteri; Raden Panglurah dan Raden Dewi Simbarkancana.

Raden Panglurah
Dari usia kecil ia sudah rajin melatih diri, berangkat ke Gunung Bitung , beliau bertapa di bekas bertapa uyut beliau, Ratu Ponggang Sang Romahiyang. Raden Panglurah adalah seorang sosok putera penguasa (raja) yang memiliki sifat-sifat zuhud, meninggalkan kesenangan dunia) dan lebih memilih untuk mengolah jiwa dan mengembangkan asfek-asfek spiritual yang telah dikaruniakan Tuhan kepadanya. Dalam kata lain Radan Panglurah lebih memilih ketentraman dan kesenangan runani serta penghambaan kepada Tuhan Semesta alam.

Raden Dewi Simbarkancana
Raden Dewi Simbarkancana walaupun seorang puteri beliau banyak memiliki sifat-sifat kepemimpinan yang diwarisi ayahanda beliau, Prabu Talagamanggung. Beliau menikah dengan Palembanggunung, Pepatih kerajaan. Pada mulanya Dewi Simbarkancana tidak mengetahui bahwa kematian ayahanda beliau itu didalangi suaminya sendiri, akan tetapi sabuni-bunina mungkus tarasi lambat laun kebusukan sang suami diketahui juga oleh beliau. Sepeninggal Prabu Talagamanggung, Kerajaan Talaga untuk sementara waktu dikuasai oleh Palembanggunung.
Dewi Simbarkancana merasa sangat terpukul, beliau ceurik balilihan (menangis dengan sangat menderita batin) karena dua hal: pertama, karena beliau dihianati oleh suami beliau sendiri; yang kedua, karena ditinggal oleh ayahanda tercinta dengan peristiwa yang memilukan. Menurut beliau, siapa orangnya yang tidak berduka hati ketika ditinggal sang ayah. Ayahanda beliau, sesorang yang sudah berbuat baik mengangkat derajat Palembanggunung dibalas dengan perilaku yang sangat keji. Air susu dibalas air tuba itulah yang terjadi. Akhirnya dengan keberanian beliau, Dewi Simbarkancana berhasil membunuh Palembanggunung dengan susuk kondenya.
Selanjutnya Raden Dewi Simbarkancana menikah dengan Raden Kusumalaya (Raden Palinggih) dari keraton Galuh, putera dari Prabu Ningrat Kancana. Beliau adalah seorang yang masagi pangarti (cakap lahir batin), seorang tabib dan ahli strategi. Beliau berhasil menumpas tuntas gerakan bawah tanah Palembanggunung dan komplotannya, dengan demikian kekuasaan dapat diambil kembali, keamanan dan ketertiban negara kembali menjadi stabil dan kokoh.
Dari pernikahan Dewi Simbarkancana dengan Raden Kusumalaya membuahkan delapan orang putera, yaitu:
1. Sunan Parung (Batara Sukawayana);
2. Sunan Cihaur, (Mangkurat Mangkureja);
3. Sunan Gunung Bungbulang;
4. Sunan Cengal (Kerok Batok);
5. Sunan Jero Kaso;
6. Sunan Kuntul Putih;
7. Sunan Ciburang; dan
8. Sunan Tegalcau.

Perpindahan Pertama Pusat Kerajaan (ke Walangsuji)
Menyusul kekacauan yang menimpa keraton Sangiang, yakni dengan adanya rajapati terhadap Prabu Talagamanggung dan pemberontakan yang didalangi sang menantu durhaka, hal ini mendorong Ratu Simbarkancana untuk memindahkan pusat kerajaan dari tutugan Gunung Ciremay ke Walangsuji, di Desa Kagok, Kemantren Banjaran, Kecamatan Talaga sekarang.
Pusat pemerintahan di Walangsuji nampaknya tidak begitu lama, boleh dikatakan hanya sapanguluban waluh. yakni pusat kerajaan hanya bertahan di Walangsuji selama tujuh tahun tiga bulan . Setelah Penguasa Talaga memandang dari berbagai segi akhirnya diputuskanlah bahwa Walangsuji kurang strategis untuk tetap dijadikan pusat pemerintahan Kerajaan Talaga sehingga pusat karajaan harus segera dipindahkan kembali.

Perpindahan Kedua Pusat Kerajaan (ke Parung)
Sepeninggal Ratu Simbarkancana, Kerajaan Talaga dipegang oleh putera sulung beliau yang mendapat julukan Sunan Parung (1450 M). Setelah Sunan Parung mangkat, pemerintahan diserahkan kepada satu-satunya puteri beliau yang bernama Ratu Dewi Sunyalarang (1500 M) yang di kemudian hari mendapat julukan Ratu Parung.
Dewi Sunyalarang (Ratu Parung) menikah dengan Raden Ragamantri, putera Prabu Mundingsari Ageung dari Ratu Mayangkaruna. Raden Ragamantri adalah cucu dari Begawan Garasiang dan juga cucu dari Prabu Siliwangi II (Jaya Dewata atau Pamanah Rasa). Pada masa pemerintahan Dewi Sunyalarang inilah pusat kerajaan dipindahkan ke Parung. (Bersambung kepada SEJARAH KERAJAAN TALAGA PASCA MASUKNYA ISLAM)

SEJARAH KERAJAAN TALAGA PASCA MASUKNYA ISLAM

Oleh. M.Hajarudin

Ratu Sunyalarang dan Raden Ragamantri Masuk Islam

Pada tahun 1529 Ratu Parung dan Raden Ragamantri mengucapkan syahadatain, masuk agama Islam, melalui dakwah Sunan Gunung Djati yang dibantu para dai Cirebon. Selanjutnya Sunan Gunung Djati (Syaikh Syarif Hidayatullah) memberikan gelar Prabu Pucuk Umum Talaga kepada Raden Ragamantri sebagai bentuk penghormatan kepada beliau dan keluarga besar Talaga serta ungkapan rasa syukur ke Hadhirat Allah Ta’ala.

Hasil pernikahan Ratu Parung, Ratu Sunyalarang dengan Raden Raganantri, Prabu Pucuk Umum Talaga dikaruniai enam putra, yaitu:

  1. Prabu Haur Kuning;
  2. Aria Kikis, Sunan Wanaperih;
  3. Dalem Lumaju Ageng Maja;
  4. Sunan Umbuluar Santoan Singandaru;
  5. Dalem Panungtung Girilawungan Majelengka; dan
  6. Dalem Panaekan.

Ratu Dewi Sunyalarang pada awalnya dimakamkan di tepi Sungai Cilutung, dan demi keamanan dan pengikisan oleh air kemudian makam beliau dipindahkan ke makam keluarga Raden Natakusumah di Cikiray oleh Raden Acap Kartadilaga pada tahun 1959 M. Sedangkan Raden Ragamantri dimakamkan di tepi Situ Sangiang, makamnya diketemukan pada hari Senin, 22 Rajab 1424 H. atau bertepatan dengan 22 September 2003 oleh penulis. Kuburan beliau terletak diluar bangunan utama tempat penjiarahan, persisnya di bawah rindangnya pepohonan besar ditandai dengan sebatang pohon rotan[1]. Sesuai saran beliau, kuburannya ditandai tiga buah batu biasa sebagi batu nisan.[2]

Perang Talaga Pada Masa Pemerintahan Arya Kikis

Pada generasi kedua masa pemerintahan Islam Talaga, sepeninggal Ratu Parung, Talaga dipimpin oleh Arya Kikis (Sunan Wanaperih), putera kedua Ratu Parung pada tahun 1550 M. Arya Kikis adalah seorang Narpati dan da’i Islam yang handal. Beliau mewarisi ketaatan yang tulus, ilmu-ilmu kanuragan dan ilmu-ilmu keislaman dari Sunan Gunung Djati. Salah satu cucu beliau adalah Raja Muda Cianjur, Raden Aria Wiratanudatar atau yang dikenal dengan Dalem Cikundul.

Diawali dangan ikut campurnya Demak untuk menarik upeti dari Talaga melalui Cirebon, sedangkan kondisi rakyat Kerajaan Talaga yang sangat memerlukan perhatian pemerintah (lagi susah), akhirnya permintaan Cirebon dan Demak untuk menarik upeti dari Talaga “ditolak”. Selanjutnya, dengan tiba-tiba saja pasukan Cirebon yang dibantu Demak menyerang Talaga. Dengan demikian terjadilah peperangan hebat antara Pasukan Talaga yang dipimpin langsung oleh Senopati Arya Kikis melawan pasukan penyerobot dari Cirebon dan Demak.

Di medan laga sekalipun prajurit-prajurit Kerajaan Talaga yang dibantu ketat oleh puragabaya serta pendekar-pendekar dari padepokan-padepokan dan pesantren-pesantren Islam itu jumlah pasukan dan senjatanya lebih kecil dibanding jumlah serta kekuatan para aggresor, akan tetapi pasukan Talaga dengan penuh semangat dan patriotisme tetap mengadakan perlawanan.

Dengan teriakan dan gaung Allahu Akbar, serentak pasukan Talaga dengan kecepatan dan kesigapan yang luar biasa menerjang lawannya dan terus menerus mengkikis habis para aggressor yang datang menyerang tanpa kesopanan dan tatakrama itu. Syukurlah bahwa akhirnya kekuatan para penyerobot itu dapat dilumpuhkan dan semua pasukan Cirebon dan Demak dapat diusir keluar dari wilayah Kerajaan Talaga.

Kesepakatan Keraton Ciburang

Karena peristiwa itu Kanjeng Sinuhun Susuhunan Cirebon, Syarif Hidayatullah serta merta datang ke Talaga dan disambut secara khidmat dan hormat oleh Pangeran Satyapati Arya Kikis, Senapati Kerajaan Talaga, Sang Sunan Wanaperih; tidak urung dengan mendapatkan penghormatan besar dari para prajurit, puragabaya, para pendekar dan rakyat kerajaan Talaga serta Galuh Singacala.

Sesuai dengan kesepakatan pada musyawarah di Keraton Ciburang yang diselenggarakan oleh para Raja dari Galuh beberapa waktu yang silam; yang menyatakan bila Kanjeng Waliyullah sendiri mengucapkan titahnya, mereka semua akan tumut kepada Kanjeng Sinuhun Cirebon, Syarif Hidayatullah.

Ternyata kesepakatan di Keraton Ciburang itu dengan takdir Allah terkabul juga. Pada saat itulah Kanjeng Sinuhun Cirebon bersabda; Bahwa peperangan itu sungguh ditakdirkan Allah; tetapi bukan merupakan perang agama, sebab di Jawadwipa hanya pernah ada satu perang agama, yaitu antara Demak dan Majapahit. Terjadinya perang Talaga hanya karena tindakan keliru pasukan Cirebon dan Demak.

Kemudian Susuhunan Cirebon, Syarif Hidayatullah mengijinkan kepada Pangeran Arya Kikis untuk bertafakur di kampungnya yaitu Leuweung Wana yang selanjutnya disebut Wanaperih, dengan hasrat untuk mendalami ajaran Agama Islam sedangkan kerajaan Talaga tetap berdiri secara mandiri, adapun kepemimpinannya diayomi oleh Kanjeng Waliyullah, Sunan Gunung Djati.

Sunan Wanaperih mempunyai enam orang anak, empat orang putera dan dua orang puteri. Mereka adalah:

  1. Dalem Kulanata Maja[3];
  2. Dalem Cageur Darma;
  3. Raden Apun Surawijaya;
  4. Ny. Ratu Radeya[4];
  5. Ny. Ratu Putri[5]; dan
  6. Dalem Waqngsagoparana[6].

Pemerintahan Raden Apun Surawijaya.

Raden Apun Surawijaya memerintah Talaga sepeninggal ayahanda beliau Arya Kikis pada tahun 1590. Beliau adalah seorang Narpati Talaga yang gagah rongkah sakti mandraguna, akan tetapi sangat mencintai dan dicintai para pembantu beliau dan bahkan dengan kegagahan dan wibawanya itu beliau ditakuti lawan. Makam beliau terdapat di Kampung Lemah Abang, Desa Cikeusal, Kecamatan Talaga-Majalengka.

Raden Apun Surawijaya, Sunan Kidul mempunyai empat orang putera yaitu:

  1. Dalem Salawangi;
  2. Sunan Cibalagung (Cianjur);
  3. Pangeran Surawijaya (Sunan Ciburuy); dan
  4. Dalem Tuhu (Sunan Ciparanje.

Sebagaimana kita ketahui bahwa pada masa pemerintahan Raden Apun Surawijaya Kerajaan Talaga sudah dibawah kekuasaan Cirebon. Walaupun demikian Sang Narpati Talaga itu tetap setia dan patuh pada Kesepakatan Ciburang yang telah dibuat oleh para pembesar Talaga maupun Cirebon. Agama Islam dan perasaan “saakar jeung sakaruhun” telah merekatkan tali persaudaraan dan tali kekeluargaan kedua negara tersebut. Memang ada kata-kata leluhur yang mengatakan: “Ari numoro (nyangkalak) rampog-mah Talaga, nanging ari congcotnya bagian Cirebon”. Demikian ini mungkin diucapkan untuk menyatakan adanya ketidak adilan yang muncul, dan itulah nampaknya yang menyebabkan Perang Talaga berlangsung.

Sebagai seorang penguasa yang dicintai dan mencintai rakyatnya, Raden Apun Surawijaya telah berhasil meningkatkan tingkat kesejahteraan para petani. Pada masa beliau berbagai bendungan irigasi (dam) dibangun, beliau sangat memperhatikan kebutuhan-kebutuhan rakyat, khususnya dalam pemanfaatan sumber daya alam.

Pemerintahan Raden Arya Adipati Surawijaya.

Raden Arya Adipati Surawijaya (Sunan Ciburuy), putera ketiga Raden Apun Surawijaya menjadi raja menggantikan ayahnda beliau pada tahun 1635 M. Beliau menikahi Ratu Kartaningrat, adik Sultan Panembahan Kasepuhan Cirebon. Raden Arya Adipati Surawijaya dalam melaksanakan tugas pemerintahannya didampingi Sang Patih, Aria Paningsingan, seorang senapati yang gagah dan berani.

Dari hasil pernikahan antara Raden Arya Adipati Surawijaya dengan Ratu Kartaningrat beliau dikaruniai Allah SWT lima orang putera dan satu orang puteri, yakni:

1. Pangeran Adipati Suwarga;

2. Pangeran Jayawiriya;

3. Pangeran Kusumayuda;

4. Dalem Tuhu (Sunan Ciparanje, Subang);

5. …………………..(tidak diketahui namanya); dan

6. Ratu Puteri Tilanagara.

Pemerintahan Raden Adipati Suwarga

Selanjutnya yang memerintah Talaga adalah putera cikal Raden Arya Adipati Surawijaya yang bernama Pangeran Adipati Suwarga, beliau naik tahta tahun 1675 M. Pangeran Adipati Suwarga menikahi dua orang isteri, yaitu:

1. Ratu Losari Cirebon; dan

2. Nyi Mas Jitra dari Nunuk (Cengal).

Dari pernikahan Pangeran Adipati Suwarga dengan Ratu Losari dikaruniai putera yang bernama Pangeran Aria Sacadilaga, sedangkan dari penikahan beliau dengan Nyi Mas Jitra dikaruniai putera yang bernama Pangeran Adipati Wiranata.

Talaga Terpecah Menjadi Dua Kerajaan

Ketika Pangeran Adipati Wiranata mau dinobatkan sebagai Narpati Talaga tahun 1715 M muncul protes dari putera Pangeran Kusumayuda yang bernama Pangeran Natadilaga. Beliau merasa berhak untuk menjadi Narpati Talaga. Melihat kondisi demikian, para sesepuh Talaga segera mengadakan musyawarah dengan keputusan bahwa Talaga harus dibagi dua, yakni menjadi dua kesultanan:

1. Kesultanan Talagakidul, yang dipimpin oleh Adipati Wiranata; dan

2. Kesultanan Talagakaler, yang dipimpin oleh Pangeran Natadilaga.

Ketika itu pula disepakati bahwa Talaga dibagi menjadi empat sudut mata angin Kabupatian yang meliputi:

1. Kebupatian Talagakidul; dipimpin oleh Pangeran Adipati Sacanata, putera ke-3 Pangeran Adipati Wiranata;

2. Kebupatian Talagakaler; dipimpin oleh Pangeran Arya Sacadilaga, putu Pangeran Arya Natadilaga;

3. Kabupatian Talagawetan; dipimpin oleh Pangeran Kartanagara, putera ke-4 Pangeran Adipati Wiranata; dan

4. Kabupatian Talagakulon; dipimpin oleh Dalem Surya Sepuh, putu Pangeran Adipati Jayawiriya.

Keempat bupati dari empat Kabupatian Talaga ketika itu mendapat julukan Pangeran Papat, karena dalam satu masa yang bersama-sama mengurus Negara Talaga.

Masuknya Dajjal (Kaum Penjajah) dari Erofa di Talaga

Seiring masa berlalu munculah “munding-munding bule” di bumi pertiwi, yakni dimulai dengan datangnya perjajah Portugis, Spanyol, dan akhirnya Belanda (VOC). Dengan politik Devide et impera atau politik pecah belah, pada umumnya mereka berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan di tanah air, tidak terkecuali Talaga.

Pada tahun 1806 M Belanda menjadikan empat Kabupatian Talaga menjadi satu kabupatian dengan bupatinya Pangeran Arya Sacanata II. Tiga tahun kemudian, yakni tahun 1818 M Kabupatian Talaga digabung dengan Kabupatian Sindangkasih menjadi Kabupaten Majalengka yang kita kenal sekarang.

Sesuai dengan rencana licik VOC bahwa sebagai konsekuensi digabungnya dua kabupaten itu mengharuskan Bupati pindah dari Talaga ke Majalengka. Pangeran Sacanata II sebagai Bupati Majalengka ketika itu menolak untuk meninggalkan Talaga dan akhirnya dipensiunkan oleh Belanda (VOC) dengan hak jasa pensiun sebidang tanah sawah lima puluh bahu. Dengan demikian Pangeran Sacanata II (Eyang Regasari) mendapat julukan Bopati Panungtung Talaga.

Sebutan “Bopati Talaga” Menjadi “Sesepuh Talaga”

Karena dari rundayan Talaga pasca penggabungan antara Kabupatian Talaga dan Sindangkasih itu tidak ada yang memegang kekuasaan secara politik, maka para sesepuh Talaga bermusyawarah untuk menentukan orang yang akan memegang dan mengurus benda-benda pusaka karuhun Talaga. Ketika itu disepakati bahwa yang berhak mengurus benda-benda itu adalah keturunan yang mempunyai hubungan langsung dari Pangeran Sacanata II dari pihak anak laki-laki, jika anak laki-laki tidak ada maka pihak perempuan pun diperbolehkan asal jika mempunyai anak laki-laki maka pengurusan benda pusaka harus kembali dipegang pihak laki-laki.

Beriku ini adalah orang-orang yang mendapat tugas mengurus benda-benda Pusaka Karuhun Talaga, yang selanjutnya mereka disebut para Sesepuh Talaga:

1. Pangeran Sumanagara (1820-1840 M), putera sulung Pangeran Arya Sacanata II;

2. Nyi Raden Anggrek (1840 – 1865 M), puteri Pangeran Sumanagara;

3. Raden Natakusumah (1865 – 1895 M), putera Nyi Raden Anggrek;

4. Raden Natadiputra (1895 – 1925 M), putera Raden Natakusumah;

5. Nyi Raden Masri’ah (1925 – 1948 M), puteri Raden Natadiputra;

6. Raden Acap Kartadilaga (1948 – 1970 M), suami Nyi Raden Masri’ah;

7. Nyi Raden Mardiyah (1970 – 1993 M), puteri Daden Acap kartadilaga;

8. Raden Oo Mohammad Syamsuddin (1993 – 2001 M), putera Nyi Raden Mardiyah; dan

9. Raden Abung Syihabuddin (2001 – sekarang), putera Raden Oo Mohammad Syamsuddin.

Islam di Talaga Berkebang Secara Damai

Agama Islam di wilayah Kerajaan Talaga berkembang pesat berkat kerja keras dan suri tauladan yang indah dan cinta damai dari para da’i Islam yang didukung toleransi penuh dari para penguasa Hindu Kahiyangan baik yang menguasai Talaga, Galuh, maupun Pakuan Pajajaran. Bayangkan jika tidak ada toleransi dari para penguasa Hindu yang ada di tanah Pasundan, mungkin sekali penyebaran Islam di Talaga khususnya dan Tanah Pasundan umunya akan dipenuhi dengan cucuran darah dan pertumpahan darah.

Insya Allah, kemakmuran dan kedamaian Talaga akan senantiasa tercipta manakala segenap penduduknya senantiasa mensyukuri nikmat-nikmat Allah, saling mengasihi dan menyayangi, mengembangkan budaya toleransi dan menjauhi budaya kekerasan. Kita harus senantiasa ingat bahwa budaya kekerasan Wahabiyah, melalui gerakan DI TII yang sempat mengoyak-oyak sebagian wilayah Talaga tidak terulang lagi.

Amin dan Alhamdulillahirabbil ‘alamiin



[1] Tadinya penulis tidak menyangka bahwa di atas kuburan beliau betul-betul hanya ada satu pohon rotan (ketika itu sudah pugur dengan satu lembar daun) sesuai dengan tanda-tanda yang disebutkan dalam Babad Talaga, Subhanallah.

[2] Penemuan letak makam Raden Ragamantri telah dicek dan diakui kebenarannya oleh Kang Yuyun, Spiritualis Talaga beberapa waktu setelah penulis memohon beliau untuk mencek kebenaran apa yang telah disampaikan Eyang Ragamntri kepada penulis secara spiritual itu.

[3] Beberapa tahun yang lalu, Dalem Kulanata memberitahu kepada Kakanda Penulis, Mahfuddin melalui mimpi agar makam beliau yang terletak di pemakaman umum Maja Selatan diperbiki. Hal ini sudah diberitahukan kepada kuncen pekuburan.

[4] Dinikahi oleh Ariya Paningsingan

[5] Dinikahi oleh Syekh Sayyid Pamijahan

[6] Menurunkan para penguasa di Sagalaherang Subang dan Cianjur.

TERSESAT DI KAMPUNG JIN PANTAI ULE BIMA


E

ntah mengapa, aku amat menyukai objek wisata pantai Ule itu. Mungkin karna itulah, hampir semalaman mataku sulit di pejamkan sebab selalu terbayang betapa asiknya perjalanan wisata ke pantai Ule, Asa Kota, Kota Bima. Rencananya besok aku memang akan mengisi liburan mingguan setelah enam hari berkutat dengan rutinitas kerja yang melelahkan.

Adzan dhuhur terdengar dari corong masjid yang terletak tidak jauh dari rumah kost dimana aku tinggal di lingkungan Salama, kelurahan Na’e, Kota Bima. Hawa panas yang menyapu seluruh dinding bagian luar kost ku seakan-akan terasa menembus kedalam ruangan, mungkin karna keadaan itulah sebabnya aku tidak pernah tahan untuk berada di kost pada waktu siang hari.

Tepat pukul 1 siang, sahabatku Randy datang menjemput. Setelah sejenak berbincang sambil menyeruput teh dingin, kami pun berangkat dengan berboncengan sepeda motor milik Randy menuju lokasi yang di tuju.

Perjalanan melewati jalan-jalan Kota tidaklah terlalu istimewa bagiku. Namun memasuki tanjakan pertama yang sekaligus perbatasan kelurahan Melayu dengan Objek wisata pantai Ule, suasana mulai terasa istimawa. Hawa sejuk merasuki anggota tubuhku yang berbalut jaket tebal. Selain itu pemandangan alam perbukitan yang indah nan hijau membuat segar badan dan pikiran.

Di sebuah tikungan jalan tempat kami berhenti untuk istirahat sejenak. Iseng-iseng, ku coba merentangkan tangan memeluk batang pohon besar yang ada di sana. Ternyata, diameternya bisa tiga kali rentangan tangan.

Sebenarnya, bukan sekali ini aku berkunjung ke pantai Ule. Sudah beberapa kali aku mengunjunginya, entah mengapa aku suka sekali dengan pantai Ule. Mungkin karna perjalananya yang mengasikan dan hawanya yang sejuk. Di samping jaraknya yang tidak terlalu jauh dari kampung Salama yang hanya membutuhkan waktu kurang lebih sepuluh menit saja. Sehingga dengan mudah setiap orang berkunjung ke tempat wisata tersebut. Termasuk aku dengan Randy.

Selama aku mengenal pantai Ule tidak pernah aku mendengar ada kejanggalan, baik dari cerita orang-orang maupun yang pernah ku rasakan sendiri. Karna seingatku sejak empat tahun lalu aku merantau ke Kota Bima, pantai Ule adalah sasaran utama objek wisata ku. Setiap waktu hanya ku habiskan di situ, jadi sangat mustahil aku tidak mengetahui adanya kejanggalan yang pernah terjadi di pantai itu.

Setelah sejenak berhenti aku dan Randy melanjutkan kembali perjalan ketempat yang telah menjadi langganan kami itu. Aku menghelai nafas, “hahh Ule, kau sangat berarti bagiku, setelah enam hari dengan rutinitas kerja yang melelahkan, kini kau telah menyegarkanku kembali dengan hawa sejukmu.” Gumamku dalam hati.

Beberapa menit kemudian seingatku, aku mulai merasakan keanehan yang tidak biasanya kurasakan bila berkunjung ke kawasan itu. Di arah depan terlihat kabut yang cukup tebal, hal itu membuat jarak pandang mungkin hanya sekitar empat sampai lima meter saja. Padahal hari terlihat cukup cerah dan waktunya masih siang hari bolong. Jadi, tidak ada alasan dengan kabut itu.

“ah, mungkin ini fenomena alam biasa. Karna musim penghujan akan segara tiba!” pikirku.

Kira-kira semenit kurasakan menembus kabut tebal itu, akhirnya kabut pun mulai menipis. Setelah itu, aku merasa sedang memasuki sebuah perkampungan yang amat asing bagiku. Padahal, seingatku tidak ada kampumg lagi selain kampung yang kami lewati sebelum jembatan tadi. Itupun tidak layak disebut perkampungan karna di situ cuman beberapa rumah saja.

“wah, kampung ini memang aneh, kalau begitu aku tanya saja orang-orang itu.” kataku. Yang memang pada saat itu terlihat beberapa orang tengah berjalan. Setengah berbisik aku memperhatikan keadaan kampung itu dengan hati yang kian tak menentu. Hal utama yang paling menarik perhatianku adalah ketika aku melihat banyak sekali jagung yang sudah di kupas dan di jemur di pinggir jalan. Terlihat beberapa orang laki-laki sedang berdiri di depan pintu pagar rumahnya masing-masing. Ada juga wanita yang sedang menggendong anaknya dengan kain batik khas daerah Bima. Kulihat pula ada orang sedang membakar sampah di halaman rumahnya. Dari semua yang ku perhatikan itu, untuk sementara aku belum menyadari adanya keanehan dari orang-orang itu.

Akupun berjalan kearah wanita yang sedang sibuk menyapu lantai warungnya, aku memperhatikan keadaan warung kecil itu. Warung itu terlihat menjuaal kebutuhan sehari-hari seperti sabun, snack, pisang goreng, permen, beras, jagung dan lain-lain.

Kemudian kuperhatikan wanita pemilik warung itu. Ku coba untuk mengenali wajahnya. Tapi tidak bisa. Rambutnya yang panjang terurai kira-kira sebatas punggung. Seolah mengerti kalau sedang kuperhatikan, dia hanya menunduk sambil tangannya terus menyapu-nyapu lantai yang sebenarnya sudah bersih.

Aku mencoba bertanya kepadanya. Tapi anehnya wanita pemilik warung itu tidak terlihat mengangkat wajahnya. Dia sepertinya tidak ingin wajahnya diketahui orang lain. Akupun mencoba untuk bertanya lagi, dan akhirnya diapun menjawab pertanyaan ku, tapi mukanya masih terus menunduk.

Karena penasaran, aku mencoba agar bisa mendekati wanita itu. Ketika itu, spontan terlintas dalam pikiranku hendak membeli pisang goreng. Disamping untuk melihat lebih dekat si penilik warung, setidaknya pisang goreng itu lumayan juga untuk penjanggal perut. Pikirku dalam hati.

“ Assalamualaikum !” aku memberi salam padanya. Tanpa menjawab salamku, kali ini dia berhenti menyapu tapi tetap menundukkan kepalanya.

Lalu katanya dengan ketus, “ada apa lagi, mas!”

“ saya mau beli pisang gorengnya, bu!” jawabku.

Wanita itu terdiam sejenak, lalu jarinya menunjuk kearah plastik pembungkus, sambil katanya lagi, “silahkan pilih saja… itu kantongnya!”

Aku mengambil kantong plastik di dekat pisang goreng itu. Lalu aku masukan sepuluh buah kedalamnya. “sepuluh biji saja, bu. Berapa harganya ?” tanya ku.

“berapa saja, mas.” Jawabnya.

Aku sebenarnya bingung, tapi cepa-cepat ku buang kebingungan itu lalu aku coba tetap konsentrasi. Ku ambil uang selembar lima ribuan, dan ingin ku berikan langsung kepadanya. Tapi sebelum uang ku berikan, si pemilik warung berkata lagi, “uangnya taruh diatas situ saja, mas.” Sambil menunjuk dagangan pisang gorengnya. Kini perempuan itu berdiri dibelakang tumpukan karung beras setinggi perutnya, dengan kepala tetap menunduk. Aku menaruh lembar lima ribuan itu, lalu segera permisi pergi. Tak lupa ku ucapkan terima kasih pada si wanita penjaga warung itu, meski dia tetap diam tak menjawab. Akupun beranjak pergi, sambil berjalan ku perhatikan orang-orang

Majalah NTB HISTORY …..

Waspadai Anti Virus dan Scanner Palsu !!!!

Pada saat anda sedang berjalan-jalan didunia maya, mungkin anda pernah menemui iklan yang menawarkan Antivirus atau Antispyware terbaru dan yang terpenting dalam penipuan ini adalah Free … yup tapi hati-hatilah karena dibalik semua keuntungan itu terdapat sebuah mimpi buruk , Begitu Antivirus palsu ini terinstall di komputer, dia langsung menjalankan aksinya yaitu memberitahukan kita bahwa komputer kita terinfeksi sejumlah virus dan untuk membasminya kita dianjurkan untuk membeli yang “Pro atau Full Version” dan pastilah ujung-ujungnya adalah duit alias uang… dan jikalau ingin membelinya kita harus menggunakan kartu kredit, maka jangan heran kalo nanti dikemudian hari akan ada tagihan-tagihan transaksi yang tidak kita lakukan, selain itu harga dari Versi yang Pro atau Full Version dari Antivirus tertera hanya “10-20 US Dollar” tapi begitu anda melakukan transaksi, dan jangan kaget atau sampai jantungan ditagihan tersebut tertera 400 US Dollar atau bahkan lebih guede lagi.

Kalau anda masih bingung anda bisa lihat daftar AntiVirus dan Scanner yang kemungkinan besar adalah palsu dibawah ini :


  • Advanced Antivirus
  • AdwarePunisher
  • AdwareSheriff
  • AlphaCleaner
  • AntiSpyCheck
  • AntiSpyware Expert
  • AntiVermeans
  • AntiVermins
  • AntiVerminser
  • AntiVir Gear
  • Antivirus 2009
  • Antivirus Lab 2009
  • Antivirus XP 2008
  • Antivirus Master
  • AntivirusGolden
  • AVGold
  • BraveSentry
  • IE Defender
  • Internet Antivirus
  • Malware Crush
  • MalwareWiper
  • Micro Antivirus 2009
  • MS Antivirus
  • Pest Capture
  • Pest Trap
  • Power Antivirus 2009
  • Power Antivirus
  • PS Guard
  • Smart Antivirus 2009
  • SpyAxe
  • SpyCrush
  • SpyDown
  • SpyFalcon
  • SpyHeals
  • SpyLocked
  • SpyMarshal
  • SpySherrif
  • SpySoldier
  • Spyware Soft Stop
  • Spyware Vanisher
  • SpywareKnight
  • SpywareLocked
  • SpywareQuake
  • SpywareRemover
  • SpywareSherrif
  • SpywareStrike
  • System Antivirus 2008
  • TitanShield Antispyware
  • TotalSecure 2009
  • Trust Cleaner
  • Virtual Maid
  • Virus Protect Pro
  • Virus Protect
  • Virus Blast
  • Virus Burst
  • VirusRay
  • Vista Antivirus 2008
  • WinAntiSpyPro
  • WinHound
  • XP Antivirus 2008
  • XP Antivirus 2009
  • XPErt Antivirus

Kalau memang sudah terlanjur terinstall maka jangan pernah izinkan Antivirus ini terkoneksi ke dunia maya (Internet) dan langsung lakukan Uninstall .

==== Sekian Semoga dapat membantu ====

Saran dan kritik yang membangun harap dialamatkan ke : altekcomputer.computer@gmail.com ato fuadahmad58@yahoo.com

Fuad Ahmad Ti2 SMK2 Kobi

SEJARAH BIMA (BAGIAN I)

By : Muhammad Hajaruddin Altek

Asal Usul Kata “Bima” Nama “Bima” dipergunakan untuk mengabadikan nama Sang Bima. Sang Bima adalah tokoh sejarah daerah ini yang berasal dari luar daerah. Ia dinyatakan sebagai raja pertama di daerah ini, dan keturunan Sang Bima mempunyai hak sah atas tahta kerajaan secara turun temurun. Wilayah yang dikuasai Sang Bima disebut dengan nama Kerajaan Bima. Sedangkan nama lain dari Bima adalah Mbojo. Menurut cerita, nama Mbojo berasal dari istilah bahasa Bima “BABUJU”. Babuju adalah tanah yang tinggi, busut jantan. Tanah semacam itu dalam bahasa Bima disebut “DANA MA BABUJU “. Pada Dana Ma Babuju dijadikan tempat pelantikan raja yang di lakukan di luar Istana. Dari istilah itu kemudian berubah pengucapan menjadi MBOJO. Versi lainnya, berdasarkan cerita rakyat tentang Sang Bima. Sang Bima berasal dari Jawa. Sebuah tambo menceritakan, Sang Bima adalah Bangsawan Jawa keturunan raja Majapahit putra dari Pandu Dewanata berputra 5 orang yaitu: 1. Darmawangsa, 2. Sang Bima, 3. Sang Arjuna, 4. Sang Nakulo, 5. Sang Sedewo (cerita pewayangan jawa). Sang Bima salah seorang dari lima bersaudara melanglang buana ke arah timur singgah dipulau Satonda bertemu dengan seekor naga betina bersisik emas, saat itu sedang menjelma sebagai seorang putri cantik. Konon dalam sebuah hikayat, Sang Bima di suruh gurunya, Sang Durna mencari air suci kearah timur. Keduanya lalu kawin, setelah kawin, Sang Bima meneruskan perjalanannya ke arah timur dalam waktu yang cukup lama. Menurut tambo lain, keduanya tidak kawin secara pisik tetapi hanya berpandangan (beradu mata). Setelah kembali dari timur, Sang Bima tidak menemukan Sang Naga Betina. Yang ditemukan seorang putri cantik rupawan bernama Putri Tasi Sari Naga. Melihat Putri Tasi Sari Naga, Sang Bima tertarik lalu kawin. Ternyata Putri Tasi Sari Naga adalah anaknya sendiri. Namun hal ini Sang Bima tidak mengetahuinya. Dari perkawinan ini lahir dua orang putra bernama Indra Zamrut dan Indra Komala. Ketika Sang Bima meninggalkan “Dana Mbojo”, bersama isteri dan keluarganya, Sang Bima berpesan kepada Dewan Ncuhi, bahwa suatu waktu kelak, keturunannya akan kembali dan menjadi Raja di Dana Mbojo (Bima). Selang waktu yang cukup lama, kedua putra Sang Bima, bernama Indra Zamrut dan Indra Komala akhirnya datang ke Bima (Dana Mbojo). Keduanya datang untuk menerima kembali kekuasaan Sang Bima yang diwakilkan kepada Ncuhi Dara Tiada lazim bagi masyarakat Bima menyebut nama sebenarnya suami atau istri. Suami akan menyebut isterinya ”Sia doho siwe”, sedangkan isteri menyebut suaminya ”Dou doho mone” atau keduanya menyebut ”Dou di uma”. Demikian pula Sang Bima, harus menyesuaikan dengan tatakrama di Bima dengan menyebut nama isterinya Putri Tasi Sari Naga dengan ”Sia doho siwe”. Padahal ketentuan seperti itu baginya bukan hal yang baru. Di negerinya tanah Jawa isteri dipanggil Bojo. Sang Bima tidak menggunakan kata ”Sia doho siwe” untuk memperkenalkan isterinya kepada orang lain melainkan bojo yang berasal dari bahasa Jawa dengan pengucapan Mbojo. Selanjutnya anak Sang Bima Indra Zamrut menjadi Raja Bima. Ia menikah dengan Puteri Ratna Sari Peri yang berputra 3 orang : Batara Indra Bima, Batara Indra Dewa dan Puteri Ratna Dewi. Selanjutnya menjadi Raja Kerajaan Bima adalah : Batara Bima, Batara Sang Luka, Maharaja Mitra Indra Tarati, Manggampo Jawa, Pada masa ini dirintis penulisan BO sebagai sumber sejarah Bima. BO yang dibuat pada masa itu memakai lontar dengan tulisan Bima. Keberhasilan Manggampo Jawa dilanjutkan oleh Raja Indra Luka dan Maha¬raja Bima Indra Suri yang mempunyai 30 orang anak, kemudian Bima semakin berkembang saat Indra Suri digantikan oleh Raja Ma Wa’a Paju Longge dimana Ruma Tureli Nggampo (Perdana Menteri dipegang oleh adiknya Manggampo Donggo dan Ma Waa Bilmana, yang selanjutnya melalui sumpah mereka membagi jabatan Ma Waa Bilmana sebagai Tureli Nggampo sedangkan Manggampo Donggo sebagai Raja) Pada masa ini (sekitar Abad XV) terdapat tokoh militer muda yang cerdas yaitu La Mbila, yang bertugas memperluas daerah kekuasaan Kerajaan Bima yang pada masa itu berhasil menguasai hampir seluruh NTT sekarang seperti Alor Timur, Sumba dan Sawu. Selanjutnya penggantinya Raja Ma Wa’a Ndapa berhasil mempertahankan puncak kejayaan Kerajaan Bima hingga abad XVI. Namun kemegahan Bima pada awal abad XVII terhenti sejenak, kerajaan Bima mengalami kemelut berkepanjangan. Peristiwa sedih itu terjadi karena ulah tokoh bernama Salisi Ma Ntau Asi Peka, putera Raja Ma Waa Ndapa. Menurut adat ia tidak berhak untuk menjadi Raja, karena masih ada putera Raja yang lebih berhak. Salisi melakukan teror dengan membunuh Raja Samara dan Sarise, bahkan putra mahkota yang tidak berdosa dibunuhnya di padang rumput perburuan Wera. Sasaran Salisi berikutnya adalah Jenateke (putra mahkota) La Ka’i masih berada di Istana. Walau masyarakat Bima sudah mengenal Islam sejak di bawa oleh Sunan Prapen Tahun 1540, namun Pada tahun 1617 (1028 H) Islam mulai menyebar secara luas di Bima secara damai. Selanjutnya menurut BO, Ruma Ma Bata Wadu (La Ka’i), La Mbila, Bumi Jara, dan Manuru Bata sepakat menerima ajaran Islam. Selanjutnya La Ka’i berganti nama menjadi Abdul Kahir. Kejadian itu terjadi pada 10 Rabiul Awal 1030 H. (1619). Setelah melalui perjuangan yang panjang akhirnya La Ka’i atas bantuan kesultanan Makasar berhasil mengalahkan Salisi yang di bantu Balanda. Setelah tiga bulan kemenangan, pada Tanggal 15 Rabiul Awal 1050 H atau 5 Juli 1640, Abdul Kahir dinobatkan sebagai Sultan Bima I. Lalu berturut - turut: Sultan Abdul Khair, Sultan Nurudin Abubakar, Sultan Jamaluddin, Sultan Hasanuddin, Sultan Alauddin, Sultan Abdul Qadim, Sultan Abdul Hamid, Sultan Ismail, Sultan Abdullah, Sultan Abdul Azis, Sultan Ibrahim dan terakhir Sultan Muhammad Salahuddin. Kemudian Jenateke (Sultan muda) H. Abdul Kahir II dan sekarang Jenateke (Sultan muda) Ferry Zulkarnain.

HISTORY OF BIMA (PART ONE)


By. Muhammad Hajaruddin

Word Genesis “Bima”

Name “Bima” used to eternalize name The Bima. The Bima this region history figure that comes from outside region. He is declared as first king at this region, and breed the Bima has valid right on kingdom throne according to heredityly. area that dominated the Bima called by the name of Bima Kingdom.

While name other from Bima Mbojo. Follow story, name Mbojo come from language term Bima "BABUJU". Babuju tall soil, male hummock. Such soil in language Bima is called "DANA MA BABUJU". In Dana ma babuju made king inauguration place at do outside palace. From that term is then changes pronunciation is Mbojo.

Another version, based on folklore about the Bima. The Bima come from Javanese. A tambo narated, the Bima king breed Java (Jawa) noble Majapahit son from guide Dewanata has child 5 person that is: 1. Darmawangsa, 2. The Bima, 3. The Arjuna, 4. The Nakulo, 5. The Sadewo (story pewayangan Java).

The Bima one of the from brother five go to emigrate eastwards stop in satonda island come in contact with a gold scaly female dragon, moment that is incarnating as a pretty daughter. They say in a story, the Bima at order the teacher, The Durna look for holy water towards east. Both then marry, after marry, the Bima devolve the trip eastwards during sufficient. Follow tambo other, both doesn't marry according to pisik but only gaze at each other (to fight eye). After return eastward, the Bima doesn't find the female dragon. Found a handsome pretty daughter nameds daughter tasi dragon essence. See Putri Tasi Sari Naga, the Bima interested then marry. Obvious Putri Tasi Sari Naga the child self. But this matter is the Bima doesn't detect it. From this marriage borns two sons nameds Indra Zamrut and Indra Komala. When the Bima leave "Dana Mbojo", with wife and the family, the Bima leave a message to council Ncuhi, that is a time later, the breed will return and be king at Dana Mbojo (at Bima). A time g sufficient, second son the Bima, named Indra Zamrut and Indra Komala final came to Bima (Dana Mbojo). Both come to get to return to power the Bima at delegate entrust to Dara Ncuhi.

Not common for society Bima called name actually husband or wife. Husband will called the wife" sia doho siwe" , while wife calleds the husband "Dou doho mone" or both called "Dou di uma" . such also the Bima, must accustom with manners at Bima with called daughter the wife name tasi dragon essence with "Sia doho siwe" . While rule like that for him not bew matter. At wife Java (Jawa) soil the country is called bojo. The Bima doesn't use word "Sia doho siwe" to introduce the wife to another person but bojo that come from Java (Jawa) nese with pronunciation Mbojo.

Furthermore child the Bima Indra Zamrut be king Bima. He gets with Puteri Ratna Sari Peri essence has child 3 person: Batara Indra Bima, Batara Indra Dewa dan Puteri Ratna Dewi. Furthermore be kingdom king Bima: Batara Bima, Batara Sang Luka, Maharaja Mitra Indra Tarati, and Manggampo Jawa. In this time is pathed writing bo as history source Bima. bo that made during the period wear to throw with article Bima. Success manggampo Java (Jawa) is continued by king Indra Luka dan Maha Raja Bima Indra Suri wound and emperor Bima Indra Suri that has 30 childs, then Bima more bloom moment Indra Suri replaced by king Ma Wa’a Paju Longge where Ruma Tureli Nggampo (prime minister held by the younger brother manggampo donggo and Ma Waa Bilmana, later on pass their oath divides function ma waa bilmana as Tureli Nggampo while Manggampo Donggo as king) in this time (around century xv) found young military figure intelligent that is La Mbila, have a duty to expand kingdom power region Bima which is on that time success dominates almost entire NTT now is like East Alor, Sumba and Sawu.

Furthermore king the successor Ma Wa'a Ndapa success defend kingdom triumph top Bima up to century XVI. But fame Bima in the early century xvii delayed a moment, kingdom Bima experience continuous crisis. that sad event happens because figure manner nameds salisi ma ntau asi sensitive, putera king ma waa ndapa. follow his custom not justifiably to is king, because still there putera king more justifiably. salisi do terror with kill king samara and sarise, even crown innocent membunuhnya at hunt grassland wera. target salisi next jenateke (crown son) la ka'i still to reside in palace.

Although society Bima know Islam since at bring by Sunan Prapen year 1540, but in the year 1617 (1028 h) Islams begins to scattered widely at Bima in peace. Furthermore follow bo, Ruma Ma Brick Wadu (La Ka'i), La Mbila, Bumi Jara, dan Manuru Bata and brick gets Islam teachings. Furthermore La Ka'i change name is Abdul Kahir. That insident happens in 10 Rabiul Awal 1030 H. (1619). After pass long struggle final La Ka'i on Sultanate aid Makasar success beats Salisi at help Nederland.

After three victory months, on 15 Rabiul Awal 1050 H. or 5 Julies 1640, Abdul Kahir inaugurated as Sultan Bima I. Then in a series: Sultan Abdul Khair, Sultan Nurudin Abubakar, Sultan Jamaluddin, Sultan Hasanuddin, Sultan Alauddin, Sultan Abdul Qadim, Sultan Abdul Hamid, Sultan Ismail, Sultan Abdul, Sultan Abdul Azis, Sultan Ibrahim and latest Sultan Muhammad Salahuddin. Than

Jenateke (young sultan) H. Abdul Kahir II and now Jenateke Ferry Zulkarnain.